Betul-betul keras. Bokep Tobrut Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku. Saya bisa masuk angin.” kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.Aku tersentak. Ia tersenyum ramah. Ia menyenggol kepala juniorku. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Hah..? Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan.




















