Tapi sampai kapan? Bokep Tobrut Aku mempermainkan dengan lidah dan gigiku. Eksanti mendesah. Aku tidak menjawab permintaannya. Tanggal berapa tepatnya aku sudah lupa. “Mas.., cukup mas!”, tangannya mencoba mendorong dadaku untuk menghentikan kegiatanku. aku beberapa hari ini sering bermimpi,”, kataku berbohong. Agar aku bisa melupakanmu”, kataku memohon. Eksanti memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku, hingga aku agak kesakitan. Eksanti kembali menatapku tajam. Eksanti meminta maaf kepadaku, menyadari kalau aku kecewa dengan pernyataannya. Eksanti masih sibuk membereskan pakaian-pakaian yang bertebaran di atas sandaran kursi sofa. Aku menghisap dalam-dalam. Aku menatap mata Eksanti penuh hasrat nafsu. Aku mulai menghitung detik-detik yang berlalu hingga hampir setengah jam, dan tiba-tiba handphoneku berbunyi.




















