Masih menutupi diri dengan tabloid. Bokep Mama Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Ia menyenggol kepala juniorku. Ke bawah lagi: Turun. Astaga. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Aku masih termangu. Shit! Ah sial. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjuk Juniorku.Darahku mendesir. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.“Bang, Bang kiri Bang..!”Semua penumpang menoleh ke arahku. Jendela kubuka. Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon. Mbak Hawin sudah turun.










