Antara kagum dan nafsu birahi bergelora makin berkejar-kejaran di pagi yang sejuk itu.Bu Aniez membuka kaosku dan celanaku sekalian dengan cedeku. Bokeb enak banget”“Tarik dan tekan lagi Fan. Burungmu gede mantap….” katanya.Aku ikuti arahannya dan gerakan ini menimbulkan rasa sangat nikmat yang berulang-ulang seiring dengan gerakan pinggulku yang menarik dan menekan. Tanpa sengaja tanganku menyenggol bahu mulusnya, ”Thuiiing…” Seketika itu rasanya seperti disengat listrik tegangan 220V.“Maaf, Bu” kata terbata-bata“Enggak pa-pa… kamu pegang ini juga boleh. Terngiang olehku sesekali bisikannya setelah tenaganya pulih kembali:“Lagi yukk Fan…” kemudian kamipun memulai lagi.Pagi telah tiba, dengan pelan aku membuka mata, namun tidak membuat gerakan dan menggeser posisiku pagi itu. Kalaupun ada, hanya pembantu mereka.




















