Jari tangan mulai dingin. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Link Bokep Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Ah sial. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Creambath? Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya.




















